Rabu, 02 Maret 2022

,

Keluh Kesah Mengantar Kontrol Kesehatan Bayi Baru Lahir


Cerita segala sesuatu terkait lahiranku sudah upload di postingan kemarin. Kali ini dilanjutkan ceritanya tentang bagaimana keadaan bayiku saat kontrol lagi di rumah sakit. Btw aku kenalin nama panggilan anakku Azka. Jadi disini aku akan menyebutkan namanya saja.

Aku dan Azka diizinkan pulang dari rumah sakit setelah rawat inap 3 hari 2 malam. Untuk kontrol nifas boleh dimanapun yang terdekat dengan rumah. Tapi untuk bayiku wajib kontrol ke rumah sakit lagi setelah 3 hari pulang. Mengingat dia lahir prematur dan berat badannya rendah jadi harus diperiksa dokter lagi tumbuh kembangnya.

Kontrol Pertama

Bayiku kontrol pertama kali yaitu 3 hari setelah pulang. Hari Selasa pulang, hari Jum’at lah kita kontrol.

Selama 3 hari dirawat sendiri di rumah itu dia jarang sekali membuka matanya. Aku dan ibuku selalu siaga memberikan minum setiap 2 jam sekali. Saat itu masih minum susu formula dan sesekali ASI. ASI ku belum keluar banyak, terpaksa dibantu dengan susu formula. Apakah mungkin tidak adanya IMD (Inisiasi Menyusu Dini) menjadi salah satu penyebab ASI tidak lancar ya?

Dia sudah terlanjur nyaman minum dari dot karena di rumah sakit selama rawat inap 3 hari itu sudah terbiasa minum dari dot. Minum dari dot tidak butuh energi banyak untuk nyedot nya. Nah itulah dia tidak mau mengenyot payudara. Alhasil ASI pun keluarnya sangat sedikit. Tiap disodorin payudara dia nangis kejer karena ASInya nggak keluar. Dan aku nggak tega melihat bayi sekecil itu nangis kejer, akhirnya kembali lagi ke dot.

Tidak mudah untuk memberikan minum ke bayi lahir prematur. Bayiku minumnya sangat sedikit, bahkan 30 ml saja habisnya bisa sampai 1 jam. Waktunya lebih banyak buat tidur.

Hari itu tepat hari Jum’at, aku, suami, dan ibuku kembali ke rumah sakit untuk kontrol Azka. Sungguh sangat tidak tega sebenarnya bawa bayi yang masih merah kemana-mana, tapi mau bagaimana lagi, kita harus lakukan demi kesehatannya.

Karena biasanya rumah sakit sangat ramai dan harus segera dapat nomor antrian sepagi mungkin, pagi itu jam 05.00 WIB suamiku sudah berangkat ke rumah sakit supaya dapat nomor antrian awal. Setelah dapat nomor antrian, suamiku pulang lagi menjemput kami. Sekitar jam 06.30 WIB kami berangkat ke rumah sakit bawa si kecilku.

Walaupun dapat nomor antrian awal, harus tetap nunggu agak lama juga. Sebelum dokter datang, sekitar jam 08.00 WIB pasien mulai dipanggil untuk skreening awal, ditimbang berat badan dan diukur panjang badannya.

Setelah itu kita nunggu dokternya datang. Sekitar jam 09.00 WIB mulai dipanggil satu per satu. Sampai tibalah giliran Azka. Dokter memeriksa hanya sebentar dan ternyata divonis kena kuning. Penyakit kuning normal terjadi pada bayi baru lahir sekitar 1-3 hari apalagi prematur. Kuning pada bayi ini sebenarnya bisa dilihat dengan mata telanjang. Badan dan putih matanya terlihat menguning

Menurut alodokter.com, bayi kuning merupakan dampak dari tingginya kadar bilirubin dalam darah, yaitu zat berwarna kuning yang diproduksi tubuh saat sel darah merah pecah. Saat itu dokter langsung merujuk ke laboratorium dilakukan tes darah untuk mengetahui kadar bilirubin. Karena Azka berat badannya masih rendah, badannya seperti hanya ada tulang dan kulit saja, sangat sulit ngambil sampel darahnya. Bahkan petugas laboratorium sampai tidak tega menyuntik kakinya yang masih sangat kecil dan kurus itu. Diusahakan terus sampai mendapat sampel darah secukupnya.

Selanjutnya yang tidak kalah membosankan yaitu menunggu hasil lab. Tidak masalah menunggu lama kalau untuk orang dewasa saja. Yang bikin ketar-ketir disini adalah ada bayi sangat kecil ikut nunggu lama. Sungguh tidak tega lihat kondisinya. Didalam ruangan terkena dinginnya AC, di luar ruangan panas. Serba bingung kan. Sedangkan matanya masih tetap terpejam dalam gendongan neneknya.

Hampir jam 11.00 WIB hasil lab baru keluar. Bilirubin Azka memang agak tinggi. Jadi Azka harus menginap 24 jam lagi di rumah sakit. Sendirian. Tanpa didampingi orang tua. Aku harus terpisah lagi 24 jam dengan anakku. Duh hatiku rasanya sudah tidak karuan. Rasa takut, khawatir, semua bercampur jadi satu tidak bisa dijelaskan.

Selanjutnya kami menuju ke pendaftaran rawat inap. Disini lagi dan lagi nunggu lama. Salahnya sumiku tidak bilang kalau pasiennya bayi dan minta didahulukan. Setelah sekitar 15-20 menit belum juga dipanggil barulah suamiku bilang ke bagian pendaftaran tadi minta segera didahulukan. Alhamdulillah adminnya mengerti dan akhirnya kami segera masuk mengantarkan Azka ke tempat perawatannya.

Kepala ruangan bayi menjelaskan kalau hasil tes darah Azka bilirubinnya tinggi. Bilirubin yang semakin tinggi bisa membahayakan bayi. Jadi treatment yang diberikan yaitu fototerapi. Bayi disinar dengan cahaya khusus didalam sebuah box dalam keadaan telanjang. Fungsinya untuk menghancurkan dengan cepat bilirubin tadi agar bisa dikeluarkan melalui urin atau feses sampai bilirubin kembali normal. Bilirubin Azka memang diatas rata-rata tapi tidak tinggi terlalu banyak. Perawatan cukup dilakukan 24 jam saja.

Aku, suami, dan ibuku harus meninggalkan Azka sementara waktu dengan hati yang tidak tenang. Tidak sabar menunggu hari esok segera tiba dan membawa Azka pulang kembali.

Karena orang tua, termasuk ibu bayi tidak diizinkan masuk ke dalam ruang perawatan, aku harus sesering mungkin mengirimkan ASI. Di rumah aku rajin memompa ASI walaupun yang keluar setetes-tetes dan hanya dapat 30ml dari dua payudara. Aku harus semangat demi anakku. Walaupun hanya 30 ml juga diantar ke rumah sakit oleh suamiku. Suamiku mengantar ASI hari Jum’at sore dan Sabtu pagi.

Hari Sabtu kemudian..

Karena katanya Azka hanya dirawat selama 24 jam, dan dia masuk ruangan sekitar jam 11.00 – 12.00 WIB, dijam itu aku sangat menunggu telepon dari rumah sakit. HP selalu berada di dekatku.

Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Sekitar jam 15.00 WIB HP suami berbunyi. Senangnya aku, ternyata itu panggilan dari rumah sakit menginformasikan kalau Azka sudah siap dijemput. Cepat-cepat mandi dan langsung berangkat. Selalu dong kami bertiga formasinya, aku, suami, dan ibuku hehe. Aku dan suami yang masuk ke ruangan, sedangkan ibuku menunggu diparkiran karena yang punya akses masuk hanya orang tua bayi.

Wah bahagia sekali akhirnya anakku kembali ke pelukan ku tentunya dalam keadaan terlihat lebih fresh dan lebih sehat. Semoga sehat seterusnya ya sayang. Aamiin

Kontrol pertama yang mendebarkan sudah berlalu. Masih diminta kontrol lagi untuk kedua kalinya, kalau tidak salah ingat setelah satu Minggu kemudian.

Setelah kontrol itu Azka sudah semakin membaik. Minum susu sudah lebih baik daripada kemarin. Aku sudah berani bawa keluar rumah walaupun hanya di teras setiap pagi untuk berjemur.

Satu Minggu kemudian...

Hari yang mendebarkan akan datang lagi. Saatnya kontrol yang kedua.

Prosesnya sama seperti yang lalu. Jam 05.00 WIB suami berangkat ke ruang sakit bawa berkas rujukan dan ambil nomor antrian. Jam 06.30 WIB Azka kami antar ke rumah sakit. Sekitar jam 08.00 WIB dilakukan skreening awal, penimbangan berat badan. Alhamdulilah berat badan Azka sudah ada peningkatan. Nunggu dokter datang sampai sekitar jam 09.00-10.00 WIB. Azka dipanggil, diperiksa dan alhamdulilah kondisi Azka sudah jauh lebih baik.

Kontrol kedua ini adalah kontrol terakhir. Dokter tidak merujuk untuk melakukan kontrol lagi. Katanya semua sudah baik. Bahagianya kami semua. Setelah selesai pemeriksaan, kami langsung pulang dengan hati yang lebih tenang. Alhamdulillah semoga sehat terus.

Azka kami rawat di rumah dengan sebaik mungkin. Sampai sekarang usianya hampir 1 tahun berat badannya baik, tinggi badannya baik, perkembangannya juga sesuai dengan usianya. Dia sangat lincah, aktif, dan jarang sakit. Masya Allah tabarakallah.

Semoga kita semua diberikan kesehatan terus. Aamiin aamiin ya rabbal 'alamiin.

Mungkin next aku akan cerita lagi terkait perkembangan Azka. Tapi sampai saat ini masih belum terpikir lagi buat cerita apa hehe. Ditunggu saja yaaa.

Terimakasih sudah bersedia membaca ceritaku. Love you all

 

 

 

Continue reading Keluh Kesah Mengantar Kontrol Kesehatan Bayi Baru Lahir

Selasa, 01 Maret 2022

Melahirkan Dimasa Pandemi Covid-19

 Melahirkan_Dimasa_Pandemi_Covid-19

Setelah berhasil menyelesaikan tulisan tentang kehamilanku mulai dari usaha mencapai garis dua sampai cerita selama hamil, akhirnya sampai juga pada cerita yang selalu aku excited banget buat nyeritainnya. Apalagi kalau bukan cerita melahirkan malaikat kecilku yang sudah lama sekali dinantikan kehadirannya.

Di blogpost terakhir aku menceritakan pengalaman hamilku di trimester ketiga yang berakhir di kehamilan minggu ke 35-36. Sebenarnya masa kehamilan itu sebanyak 40-42 minggu. Tapi aku lahiran sebelum itu, jadi bisa disebut melahirkan bayi prematur. Sampai sekarang masih belum tahu sebabnya aku bisa melahirkan prematur karena belum pernah konsultasi dengan dokter juga.

Baca juga: Cerita Hamil Trimester Pertama

Aku melahirkan tepat pada hari Minggu tanggal 21 Maret 2021. Jadi umur anakku hari ini sampai blogpost ini tayang udah hampir setahun ya, tepatnya 11 bulan lebih.  Masyaallah.

Pada hari aku melahirkan itu jelas sudah memasuki masa pandemi. Dan aku khawatir banget sebelumnya karena pasti prosedurnya bakalan lebih ribet dari biasanya. Tapiii ternyata.....


Hamil_trimester_ketiga

Satu hari sebelum melahirkan..

Sebelum tahu kalau akan melahirkan lebih cepat, aku tidak mengira sama sekali akan melahirkan prematur.

Hari Sabtu sebelum tanggal 21 Maret aku masih sempat memaksa ngajak suami beli mie ayam kesukaanku. Pada hari Sabtu itu mulai siang kuu merasakan perutku keras dan tidak ada gerakan bayi sama sekali. Biasanya kalau perut terasa keras, ada gerakan dan merespon kalau diberi rangsangan dari luar, misalnya dielus gitu. Tapi kali ini enggak. Setelah bangun tidur siang tetep keras, aku bawa mandi dikucurin air juga tetap aja keras nggak ada gerakan sama sekali. Yang terlintas dipikiran bukan kepikir mau lahiran, tapi khawatir kalau-kalau bayiku kenapa-napa. Oke, aku masih positif thinking, mungkin si baby lagi tidur.

Satu lagi ketidaknyamanan yang aku rasain pada hari Sabtu itu yaitu nggak kuat berdiri lama. Sekitar 5-10 menit saja sudah sangat lelah dan capek, bahkan ada rasa nyeri di sekitar perut kebawah. Tapi aku masih belum kepikiran sama sekali kalau itu bisa menjadi tanda akan launching-nya si buah hati. Aku mengira kalau itu keluhan yang normal terjadi pada ibu hamil trimester akhir.

Baca juga: Cerita Hamil Trimester Kedua

Oke lanjut.

Aku pulang dari beli mie ayam setelah maghrib, ya sekitar jam 19.00 WIB. Aku tidak pernah menceritakan keluhan-keluhan itu kepada siapapun, bahkan suami dan ibuku juga tidak tahu. Aku masih bersikap seperti biasanya padahal ada rasa sedikit tidak nyaman di area perut, tapi memang rasa itu aku anggap biasa aja. Kan lahiran masih lama, sekitar satu bulan lagi, pikirku.

Aku tidur seperti biasanya, sekitar jam 21-22 WIB sudah masuk kamar dan bersiap tidur. Lagi-lagi, selalu terbangun setiap 1-2 jam sekali, apalagi acaranya kalau bukan pipis wkwk.

Sekitar jam 3 dini hari aku terbangun lagi, ke kamar mandi, tapi mulai merasakan nyeri dan sakit yang tidak biasa. Aku coba tahan, nggak ngebangunin suami juga. Coba terus tidur tapi nggak bisa. Menahan sakit yang terasa beberapa menit sekali. Aku mulai berpikir, apakah ini yang dinamakan kontraksi. Padahal belum saatnya melahirkan tapi kok kontraksi, pikirku.

Minggu, 21 Maret 2021 pagi..

Pagi hari sekitar jam 6 aku terbangun. Kali ini sakitnya lebih terasa semakin sakit. Rasanya ingin pup juga. Sudah masuk ke WC tapi ternyata tidak BAB. Nah akhirnya aku bilang ke ibu kalau perutku sakit dan mulas. Ibu yang sudah berpengalaman langsung gercep dong ngajak periksa ke bidan. Oke cus ke bidan desa.

Sampai di rumah bidan, langsung di cek dan ternyata taraaaaa sudah bukaan dua. Oh my God. Itu artinya aku akan segera melahirkan di usia kehamilan yang masih 8 bulan menginjak 9 bulan. Karena ada beberapa resiko yang sebelumnya sudah teranalisa, bidan tidak berani mengambil resiko menangani lahiranku. Jadi langsung disarankan ke rumah sakit saja.

Aku pulang dan buru-buru bersiap-siap ke rumah sakit. Belum ada persiapan sama sekali sebelumnya untuk keperluan baby. Bahkan baju baby belum beli satu pun, apalagi keperluan mandi bayi belum punya sama sekali. Cuma ada beberapa biji dikasih sama saudara wkwk.

Bahkan berkas-berkas seperti KTP, Kartu Keluarga, Kartu BPJS yang sebelumnya sudah diingatkan di Puskesmas untuk dipersiapkan, belum aku siapkan sama sekali. Jadi pagi itu bener-bener ribet, mempersiapkan segala sesuatunya mendadak. Ibu yang menyiapkan semua keperluanku dan suami yang segera menyiapkan kendaraannya. Aku ngapain? Ya diam lah sambil menahan sakitnya kontraksi wkwk.

Baca juga: Cerita Hamil Trimester Ketiga

Melahirkan_di_rumah_sakit

Otewe ke rumah sakit..

Yang mendampingi aku tentu saja suami dan ibuku. Kita mampir ke rumah sakit swasta dulu, berharap disitu lebih cepat tertangani. Rumah sakit sepi karena masih pagi. Aku langsung menuju pendaftaran, berbaring di ranjang pasien, dan diambil sampel darahnya untuk dilakukan beberapa tes. Nunggu hasilnya berasa lama banget, seiring dengan perutku yang kontraksinya sudah lebih sering.

Setelah semua berkas di cek oleh pihak rumah sakit, ternyata hasil swabku yang lalu sudah tidak berlaku atau habis masa pakainya. Artinya aku harus swab ulang, sementara rumah sakit swasta itu tidak mau melakukan swab untuk pasien yang kondisinya darurat dan butuh penangananan cepat.

Staf rumah sakit swasta itu meminta kita pindah ke RSUD saja. Duh aku kesel banget dong. Udah nunggu lama sambil ngerasain sakitnya kontraksi, berharap segera tertangani karena sepi, eh tiba-tiba disuruh pindah tanpa diantar sama sekali. Oke kita langsung menuju RSUD.

Sampai di RSUD mungkin sekitar pukul 08.00 WIB. Sama, di RSUD sangat sepi karena masih pagi. Jadi pendaftaran juga bisa lebih cepat. Suamiku yang mengurus di pendaftaran, sedangkan aku langsung dibawa ke ruang bersalin. Ibuku yang ikut mendampingi aku. Karena di masa pandemi, sudah pasti harus pakai masker dan dicek suhu di bagian pendaftaran tadi.

Di ruang bersalin aku diminta mengambil sampel urin oleh bidan. Disitulah aku tahu kalau ternyata sudah ada bercak darah yang keluar. Bidan mengambil sampel darah, memasang infus, dan mengecek bukaan jalan lahir. Betapa kagetnya aku pada saat itu bidan bilang kalau ternyata sudah bukaan 8 dan kepala bayi sudah teraba.

Sebelum bidan menyebutkan kalau ternyata sudah bukaan 8, aku masih terus berpikir kalau aku tidak akan bisa melahirkan normal dan harus operasi Caesar. Karena sejak awal periksa kehamilan, bidan Puskesmas sudah memvonis akan melahirkan secara Caesar dan diminta siap mental untuk itu.

Saat aku mendengar sudah bukaan 8  yang terpikir di otakku hanyalah, berapa sih berat badan bayiku kok sampai bisa dilahirkan secara normal.

Lanjut ceritanya di ruang bersalin.

Sambil menunggu bukaan lengkap atau bukaan 10, aku ditinggalkan sendiri di ruang bersalin, sedangkan bidan ke ruang sebelah entah apa yang mereka lakukan. Rasanya bener-bener campur aduk. Kontraksi semakin sering, tapi di ruang bersalin tidak ada yang menemani, rasanya ah mantap wkwk.

Sambil menunggu bukaan lengkap itu, ibuku sibuk belanja perlengkapan untuk melahirkan. Bidan rumah sakit yang terkenal galak sudah pasti membentak-bentak kalau tidak bergerak cepat. Kasihan ibuku huhu *sad.  

Saat ibuku datang, suamiku juga masuk ke ruang bersalin, dan beberapa bidan juga masuk ke ruang bersalin, menutup pintu, dan bersiap untuk membantu kelahiran bayiku. Tidak lama kemudian, dengan mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengejan, akhirnya  bayi mungilku lahir dan terdengar tangisannya yang membuatku merinding. Walaupun tangan harus ditusuk-tusuk jarum infus berkali-kali, infus lepas darah ngucur ditangan sampai ditali pakai gurita, semua itu terbayar sudah dan tak terasa sakit sama sekali.

Lega rasanya mendengar tangisannya. Terharu aku tuh sudah menjadi ibu seutuhnya. Meskipun aku sempat mendengar bidan bilang kalau bayiku BBLR (berat badan lahir rendah), aku hanya berharap bayiku sehat dan bisa segera pulang. Tapi rupanya perjalanan tidak semudah itu.

Setelah bayi lahir, lahirlah juga plasenta atau istilah Jawa nya batur bayi. Perjuangan tidak berhenti sampai disitu. Ternyata jalan lahirku perlu dijahit. Kata bidan banyak banget sobekan diluar dan didalam. Oh my God rasanya dijahit tanpa dibius tuh benar-benar super sekali. Daripada melahirkan menurut ku jauh lebih sakit saat dijahit. Waktu menjahit 15 menit, tepat jam 09.00 WIB selesai.

Selesai dijahit, bidan ngasih tahu kalau hasilnya reaktif dari hasil tes Covid-19 tadi. Aku tidak dipertemukan dengan bayiku sama sekali. Yang seharusnya dilakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) jadi tidak ada. Sedih banget. Aku hanya melihat wajahnya dari samping sekitar 5 detik aja, bidan langsung membawanya ke ruangan bayi. Lihatnya lagi hanya dari foto yang diambil suamiku. Aku segera dipindahkan ke ruang perawatan karena sudah ada pasien masuk lagi yang akan melahirkan juga.

Karena hasilnya reaktif dan kebetulan hari Minggu tidak ada swab, jadi aku harus rawat inap menunggu sampai hari Senin untuk dilakukan swab lagi. Aku dipindahkan ke ruang isolasi yang isinya hanya 2 pasien dalam satu kamar. Beruntung melahirkan lebih dulu daripada keluar hasil tesnya. Kalau sampai hasil tes keluar lebih dulu pasti melahirkannya di ruang isolasi itu, bukan di ruangan bersalin dan bidan memandu lewat jarak jauh jika bukaan belum lengkap dan belum saatnya mengejan. Orang yang sekamar dengan aku cerita seperti itu. Dia harus melahirkan di ruang isolasi dengan penerangan seadanya karena reaktif Covid-19. Kasihan sekali.

Senin, 22 Maret 2021

Tibalah hari Senin, aku sudah tidak sabar menunggu swab lagi. Pagi menjelang siang dilakukanlah swab. Tak sabar juga menunggu hasilnya keluar. Ternyata hasil swab keluarnya setelah maghrib. Alhamdulillah aku dan teman sekamarku hasilnya negatif. Karena sudah malam, jam kerja administrasi juga pasti sudah selesai, kita belum diperbolehkan pulang. Harus menginap satu malam lagi huft. Di rumah sakit sungguh sangat tidak nyaman. Tapi aku dipindahkan lagi ke ruang perawatan setelah melahirkan yang isinya lebih banyak orang dan semakin tidak nyaman tempatnya.

Oh ya aku pakai BPJS dari pemerintah jadi bisa dikatakan kelas bawah ya. Itulah kenapa ruanganku tidak spesial dan kurang nyaman. Terima saja lah yaa hehe.

Lanjut ke ceritanya yaa..

Setelah dinyatakan negatif dan dipindah ke ruang pasca melahirkan, aku berharap akan segera dipertemukan dengan anakku.

Tibalah hari Selasa.

Yang sangat membosankan rutinitas di rumah sakit, pagi-pagi sekali harus segera antri mandi. Habis itu penunggu tidak boleh berada di dalam ruangan. Katanya ruangan akan dibersihkan. Penunggu boleh datang lagi sekitar jam 10.00 – 11.00 WIB.

Aku disitu sendiri menahan kantuk, tidak ada teman ngobrol, tidak ada signal, begitu lengkap kebosananku. Oke, memang ada teman yang awalnya satu kamar, tapi kami tidak saling bicara, hanya ibu kami yang akrab. Jadi disitu kita saling diam. Ibu yang lain sudah diberikan bayinya masing-masing, tapi aku dan satu teman seruangan tadi tidak diberikan bayi. Jadi sampai hari Selasa aku masih belum bertemu dengan anakku.

Sekitar jam 06.30 WIB jatah sarapan datang. Diberikan waktu 1 jam untuk makan sebelum tempat makan diambil lagi. Sekitar jam 08.00 WIB ada kunjungan bidan laktasi. Dicek kondisi payudara dan ASI. Lanjut jam 08.30 WIB ada kunjungan dokter. Dokter mengecek kondisi pasien dan menentukan apakah pasien bisa pulang hari itu.

Jam 09.30 WIB sudah mulai ada panggilan untuk para pendamping. Ibu dan suamiku juga sudah datang. Sambil menunggu dipanggil, kami berkemas bersiap pulang.

Tibalah saatnya sekitar jam 10.00 WIB namaku dipanggil dan yeay akhirnya pulang. Kami lalu menuju ruang bayi menjemput anakku, tapi ternyata si kecil belum bisa pulang pagi itu. Dia kemungkinan baru bisa pulang sore soalnya dokter belum mengecek lagi kondisinya. Kami pulang dengan sedikit kecewa. Mengingat dia lahir prematur dan BBLR, sangat mungkin akan membutuhkan perawatan lebih lama lagi di rumah sakit. Kami hanya berharap semua yang terbaik, si kecil sehat dan boleh pulang hari itu juga.

Sampai rumah ternyata tetap tidak tenang ya. Anakku belum ada dalam dekapanku. Harap-harap cemas menunggu telepon dari rumah sakit.

Tibalah sekitar jam 15.30 WIB suamiku ditelepon rumah sakit dan katanya bayinya sudah boleh pulang. Waah aku seneng banget, sebentar lagi akan bertemu malaikat kecilku. Hanya suami dan ibuku yang menjemput ke rumah sakit. Aku sungguh tidak sabar menunggu kedatangannya.

Sampai di rumah sekitar jam 17.30 WIB pas banget adzan Maghrib berkumandang. Akhirnya aku bisa melihat dan memeluk buah hatiku. Dapat pesan dari rumah sakit katanya tidak boleh terpapar banyak orang dulu, mengingat bayi yang masih sangat kecil rentan tertular penyakit, apalagi sedang dalam masa pandemi. Jadi hari itu langsung masuk kamar dan hanya saudara terdekat yang melihat, itu pun dari jauh.

Banyak yang mencibir katanya bayi kok nggak boleh dilihat orang. Tapi aku tidak peduli. Semua demi kebaikan anakku.

3 hari lagi bayiku harus kontrol ke rumah sakit lagi. Untuk cerita kontrolnya akan aku post lagi di postingan selanjutnya yaa. Luv you all..

Continue reading Melahirkan Dimasa Pandemi Covid-19